Tadi pagi, saat selesai melayani saudara saudara sekampung untuk merayakan idul ftri, iseng saja saya nonton acara Todays Dialogue di Metro Tv yang menampilkan "Khilafah Vs Demokrasi". Sempat saya tertarik untuk menontonnya selama lebih kurang setengah jam kalau tidak salah.
Di situ saya melihat pihak dari Hizbut Tahrir Indonesia, lalu ada yang ditantang dari Jaringan Islam Liberal, satu orang moderator dari Universitas Paramadina dan pembawa acara Meutia Hafid sendiri. Pada awal-awal saya cukup tertarik pada bahasan yang memang cukup jarang ditampilkan : Pihak yang mencoba menegakkan syariah dan pihak yang istilahnya, coba untuk memodernkan unsur syariah dan melebur dalam kebhinekaan
Namun, saya melihat sendiri (secara pribadi mungkin...) Acara tersebut seperti dikemas kurang tepat saya rasa. Dilihat dari komposisi 3 : 1, tidak... 6 : 1 atau lebih malah. pihak dari Hizbut Tahrir sendiri rasanya sangat kewalahan menghadapi cecaran dari pihak Jaringan Islam Liberal yang pendapat dan sanggahannya disokong oleh Moderatornya sendiri (ingat, sekali lagi mungkin Metro Tv mendatangkan pihak yang kurang netral. Universitas Paramadina adalah surga bagi liberalis sekuleris). Dan dari pihak penonton yang sebagian (atau seluruhnya...?) dari mahasiswa paramadina sendiri. Makin lengkaplah hegemoni JIL dalam acara tersebut.
Oke, kembali ke judul posting awal. Saya melihat bahwa dari pihak Hizbut Tahrir sendiri sangat ngotot mempertahankan satu konsepsi yang mereka sebut sebagai "Khilafah". Konsepsi yang telah ada sejak zaman nabi sampai keruntuhan Khilafah Utsmaniyah. Asal tahu saja, bagi yang tidak tahu khilafah, itu adalah satu sistem dimana satu regional kawasan (atau mungkin dunia, bisa jadi) dipimpin oleh satu pemerintahan berdasarkan syariah Islam. Mereka berpendapat bahwa hegemoni orang orang kafir dalam segala aspek telah meruntuhkan substansi Islam sehingga Islam dikerdilkan menjadi sebuah ajaran yang hanya bersifat ritual saja sehingga harus ada perubahan dari segala aspek menurut syariah Islam.
Dari pihak Jaringan Islam Liberal, menurutnya Khilafah hanyalah sebuah sistem yang hanya ada dalam angan-angan / impian / utopis saja. Menurutnya, dalam Islam sendiri tidak ada ajaran yang secara spesifik mengatur tentang pemerintahan. Itu sudah diatur dan diserahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia juga mengatakan bahwa Arab Saudi tidak menerapkan sistem Khilafah dan (tentunya...) sedikit skeptis dengan perjuangan Hizbut Tahrir yang dari negara Arab saja tidak diterima, bagaimana bisa masuk dan menjadi kekuatan besar di kancah politik dunia?
Disini saya mendapatkan kesimpulan (kalau salah mohon dikoreksi), bahwa dari pihak Hizbut Tahrir begitu ngotot dalam menerapkan Khilafah. Pokoknya Khilafah titik! Itulah yang menurut saya, membuat organisasi ini maju ditempat sejak lama. Ia tidak mampu memahami bahwa, sulit sekali menerapkan sistem yang dimana dikatakan, satu dunia dibawah satu pemerintahan. saya tidak mengatakan bahwa sistem tersebut utopis atau apa (karena saya hargai perjuangan mereka...) Namun untuk mencapai itu, Hizbut Tahrir akan sangat kesulitan. Tentu kalau ada yang sudah tahu bahwa Hizbut Tahrir sudah lama bersinggungan dengan Ikhwanul Muslimin di mesir atau kalau di Indonesia, HT Indonesia bersinggungan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tidak akan terjadi persatuan Islam kalau kekuatan-kekuatan itu masih saja bersinggungan.
Disisi lain, dari Jaringan Islam Liberal sendiri saya melihat bahwa bantahannya terhadap sistem Khilafah masih sangat terkesan emosional. salah seorang pembicara dari JIL tampaknya hanya menyela-nyela pembicaraan moderator yang memang terkesan membela. Meutia Hafid sendiri tampaknya juga ikut dalam golongan JIL (mungkin trauma karena pernah diculik separatis di Irak???) dan terus mengintrupsi pembicaraan pihak Hizbut Tahrir. JIL sendiri melihat bahwa Syariah Islam yang dicobakan masuk dalam Khilafah sangat sulit diterapkan karena Syariah Islam harus ditangkap lewat esensi bukan dari tekstual padahal kalau saya lihat dalam al-Quran, jelas-jelas bahwa banyak seruan dalam al-Quran mengatur tatanan masyarakat yang masih relevan di masa sekarang jika diterapkan secara rasional (jujur, saya sendiri bingung maksud dari "esensi" sebab syariah tersebut adalah hal yang konkret bukan abstrak. Saya melihat dari pembicara JIL sendiri sangat sangat sangat pesimistis dengan sistem Khilafah (melihat dari raut wajahnya yang berkesan "ngece" bahasa jawanya). Dari JIL jujur, saya mungkin sulit menemukan kekurangan sebab pressure dari pihak JIL pada HTI sangat kuat (istilahnya, saya njagoin HTI tapi musuhnya banyak)...
Akhir acara, tampak bahwa perbincangan itu tidak memberikan hasil apa-apa. Hizbut Tahrir ngotot dengan Khilafah-nya, sedangkan JIL ngotot dengan modernisasinya.
Sebelum Ibu saya merebut Remote Tv dan mematikannya lalu bilang "debat apa ini, koq tak berkesudahan..." Dan tidur...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
Asslmu'alaikum...
Dari segi Dialog mungkin bisa aja dianggap nihil...Coz untuk membicarakan tema Khilafah vs Demokrasi Dalam Islam, tidak mungkin hanya 1 jam. apalagi dipotong iklan, Tema yang sangat tidak bisa dikatakan Kecil/sepele
Tapi patut diapresiasi, cz dengan adanya tema seperti masyarakat semakin bertanya2 untuk lebih mengetahuinya...
dan saya kira..cukup interaktif...
karena dari HTI menawarkan solusi Khilafah...dan diakhir dialog, ditekankan lagi...kalo tidak dengan khilafah apalagi??karena dengan cara yang sudah ada,tidak mengatasi masalah (Kasus: Iraq, Palestina yang terjajah)
salam kenal...
Dari saya pribadi, perjuangan HTI patut diacungi jempol...
Tapi persatuan Islam? Seluruh elemen Islam di seluruh dunia harus dirangkul untuk mendapatkan simpatinya...
NU, Muhammadiyah, Ikwanul Muslimin, Sunni, Syiah... dan lainnya
Slam kenal jg.
Mksih sudah mengisi blog sy
Posting Komentar