Saya ingat pada hari jum'at kemarin, saat di kampus saya duduk-duduk saja menanti dosen saya yang akan datang. Melepas penat, saya berdiskusi sebentar (walaupun akhirnya jadi panjang) bersama teman saya yang cukup melek politik. Karena yang dibahas adalah politik Islam, maka bahasan yang dibacarakan tidak jauh-jauh dari itu.
Teman saya sering mengeluhkan partai-partai sekarang tidak punya konsistensi dalam menegakkan masyarakat, sering menghalalkan segala cara untuk menang. Ia mencontohkan dulu ia pernah ikut dalam suatu organisasi Islam yang sekarang telah terbentuk menjadi perpol, ia terus diajarkan bahwa demokrasi itu thogut (mengilahkan selain Allah), tapi melihat realitas politik, ia melihat bahwa partai tempat dimana ia bernaung sudah tidak berjalan pada garis perjuangannya yakni berkoalisi dengan partai-partai yang jelas berbeda jauh dengan ideologi Islam. Disini saya mungkin akan coba melakukan analisa tentang sejauh mana partai Islam melakukan koalisi.
Dari segi kata, koalisi bisa diartikan sebagai (secara salah kaprah saya, mohon dibetulkan...) bersatunya dua atau lebih perseorangan/organisasi (bisa juga kepentingan) untuk mencapai satu tujuan. Koalisi sendiri mengatur bahwa ketika kita sudah meneken janji antar partai politik, maka saat itu kita melangkah bersama untuk meraih kekuasaan. Dasar berfikir dari koalisi itu sendiri adalah satu organisasi/partai/perseorangan tidak mampu berjalan sendiri, karena itu dibutuhkan beberapa kekuatan untuk lebih memantapkan diri dalam melakukan misalnya, memenangkan pemilu.
Nah, dari sini saya melihat model koalisi Islam yang sesuai (melihat realitas bahwa kadang partai sudah menjual ideologinya, bahkan saya dengar bahwa ada partai yang sudah mengubah haluan ideologi Islam menjadi nasionalis sekuleris, yang pastinya sudah tidak sesuai dengan prinsip awal partai saat didirikan). Dalam koalisi sendiri, terdapat dua macam tipe koalisi, yakni koalisi yang bersifat ideologis dan bersifat strategis/sementara. Tipe pertama dan kedua akan dijelaskan di bagian bawah paragraf ini.
Tipe pertama, koalisi berdasarkan ideologi adalah koalisi yang berkaitan dengan pemenangan legislatif, presiden hingga dalam merumuskan undang-undang saat menjabat. Kedua partai ini akan berjalan saling beriringan dalam merumuskan undang-undang pemerintahan utamanya yang berkaitan dengan masalah fundamental contohnya soal agama, pola pengajaran pendidikan dan hukum yang menyentuh permainan fungsi ideologis mereka. Bahkan mungkin partai ini sendiri punya platform yang sama (atau bisa jadi modifikasi agar sesuai). Partai yang punya model koalisi tip pertama ini, biasanya akan langgeng dengan asumsi pemerintahan yang dijalankan secara konstitusional maupun kekuatan militer & opini publik.
Tipe yang kedua adalah koalisi strategis/sementara. Partai tersebut hanya menjalin koalisi jika memang dirasa menguntungkan posisinya. Lama dari koalisi ini bisa saja hanya berumur seumur jagung, tergantung konteks sosial kekuasaan yang sedang terjadi. Karena itu bisa dilihat bahwa Golkar yang saat awal legislatif ngotot menggandeng PDIP sekarang mulai berpikir untuk menggandeng Partai Demokrat dengan melihat situasi kondisi partai yang kurang megkilat dan pesona yang ditawarkan oleh Partai Demokrat. Tipe koalisi ini juga tidak ideologis sehingga sering beseberangan ketika membahas masalah-masalah yang tidak seja;an dengan pemikiran partai tersebut. Bisa jadi partai yang berkoalisi itu tidak memiliki ideologi yang sama bahkan berbeda jauh.
Kalau saya melihat disini, sistem koalisi tipe kedua adalah yang paling cocok bagi Islam disebabkan karena dalam koalisi tersebut tidak melakukan penyamaan ideologis dan itu berarti tidak perlu melakukan perubahan haluan partai. Hanya, ada satu yang mungkin masih mengganjal dan membuat saya mengambil kesimpulan: dalam pemilihan yang tidak bersangkut paut dengan kepemimpinan (pilpres misalnya,...) kita tidak boleh mendukung calon-calon yang tidak berasaskan Islam atau paling tidak merugikan untuk umat Islam sendiri.
kalo ada masalah atas tulisan ini, mohon diskusikan sebab saya sendiri masih belum begitu paham. Ini adalah opini pribadi saja
Sabtu, 11 April 2009
Jumat, 10 Oktober 2008
Orang Indonesia Bisa Jadi Batman
Hahahaha... Ni mungkin postingan yang rada ngaco... tapi memang betul. Orang Indonesia bisa jadi Batman!! Dengan sedikit kekuatan magic ala Jawa, semua pasti bisa dilakuin!!!
Ada beberapa hal yang bisa dilakuin untuk jadi Batman
Saya sendiri, jujur males jadi superhero....
Siapa minat??
Ada beberapa hal yang bisa dilakuin untuk jadi Batman
- Badan tinggi. Minimal 200 cm (sulit juga kalau yang ini slx orang Indonesia rata2 cuma 170 cm doang. Tapi jangan khawatir. Dengan tinggi badan Tora Sudiro udah cukup koq jadi Batman!! (khan gede tuh. Tora kalau gak salah sekitar 185 berapa gitu...)
- Badan kudu berotot! Gak lucu khan kalau orang kayak Doyok jadi Batman. Bisa2 belum muncul udah diketawain ma musuhnya & dibilangin "minum L-Men dulu donk!!!". Mustinya sih kudu segede Ade Rai, tapi kalau seberotot Primus sih udah cukup (habis, Primus kan pernah jadi Panji Manusia Milenium, jadi kebawa...)
- Bisa beladiri. Apa aja Mulai dari taekwondo, Karate, Silat, jiu-jitsu ampe Shaolin & ilmu ninja juga gak masalah (asal jangan Kamasutra aja... Itu ilmu beladiri bukan??)
- Duit kudu banyak! Tapi buat loe yang masih pas di garis kemiskinan (gak dibawah, takut kesinggung), gak ada salahnya ikut kuis2 di TV yang langsung jadi Jutawan mendadak (rekomendasi, ikut aja kuis Super Deal 2 Milyar. Sesial2nya paling bawa 9-45 juta-an). & satu hal, jangan ketipu kuis yang REG REG apaan tuh bisa2 gak jadi kaya malah kere (Fungsi duit banyak adalah kalau cedera bisa langsung dirujuk ke Rumah Sakit. Masalah baju, juga diitung. Tapi tuh yang utama)
- Punya kendaraan sendiri. Tapi jangan bawa mobil cuz ntar kena macet dijalan & gak bisa ngapa2in... Pake sepeda motor yang biasanya dibuat maling nyolong (kan cepet banget tuh). Pake motor bebek sih gak masalah,... Tapi gak lucuu aja.
- Identitas rahasia. Ni penting banget! Bisa lewat topeng, Penutup wajah kayak maling, atau panci yang dilobangin matanya juga bisa. Tapi jangan berlebihan, ntar disangkain orang gila lagi... Tapi kalau Batman sih, biasanya pake Jubah, Baju Anti-peluru, topeng kelelawar. Tapi kalau gak ada duit bisa jahit sendiri. Biayanya sih, itung aja ndiri
- Yang paling penting............... YANG TERPENTING ADALAH JANGAN LUPA MAKE JIMAT ANTI PELURU!!! kalo2 ketembak polisi atau penjahat. Kan bisa kebal gitu. Banyak kan contohnya orang yang kebal ditembak jaman dulu kayak si Pitung atawa laen2...
Saya sendiri, jujur males jadi superhero....
Siapa minat??
Rabu, 01 Oktober 2008
HTI Vs JIL, Kenihilan Titik Temu
Tadi pagi, saat selesai melayani saudara saudara sekampung untuk merayakan idul ftri, iseng saja saya nonton acara Todays Dialogue di Metro Tv yang menampilkan "Khilafah Vs Demokrasi". Sempat saya tertarik untuk menontonnya selama lebih kurang setengah jam kalau tidak salah.
Di situ saya melihat pihak dari Hizbut Tahrir Indonesia, lalu ada yang ditantang dari Jaringan Islam Liberal, satu orang moderator dari Universitas Paramadina dan pembawa acara Meutia Hafid sendiri. Pada awal-awal saya cukup tertarik pada bahasan yang memang cukup jarang ditampilkan : Pihak yang mencoba menegakkan syariah dan pihak yang istilahnya, coba untuk memodernkan unsur syariah dan melebur dalam kebhinekaan
Namun, saya melihat sendiri (secara pribadi mungkin...) Acara tersebut seperti dikemas kurang tepat saya rasa. Dilihat dari komposisi 3 : 1, tidak... 6 : 1 atau lebih malah. pihak dari Hizbut Tahrir sendiri rasanya sangat kewalahan menghadapi cecaran dari pihak Jaringan Islam Liberal yang pendapat dan sanggahannya disokong oleh Moderatornya sendiri (ingat, sekali lagi mungkin Metro Tv mendatangkan pihak yang kurang netral. Universitas Paramadina adalah surga bagi liberalis sekuleris). Dan dari pihak penonton yang sebagian (atau seluruhnya...?) dari mahasiswa paramadina sendiri. Makin lengkaplah hegemoni JIL dalam acara tersebut.
Oke, kembali ke judul posting awal. Saya melihat bahwa dari pihak Hizbut Tahrir sendiri sangat ngotot mempertahankan satu konsepsi yang mereka sebut sebagai "Khilafah". Konsepsi yang telah ada sejak zaman nabi sampai keruntuhan Khilafah Utsmaniyah. Asal tahu saja, bagi yang tidak tahu khilafah, itu adalah satu sistem dimana satu regional kawasan (atau mungkin dunia, bisa jadi) dipimpin oleh satu pemerintahan berdasarkan syariah Islam. Mereka berpendapat bahwa hegemoni orang orang kafir dalam segala aspek telah meruntuhkan substansi Islam sehingga Islam dikerdilkan menjadi sebuah ajaran yang hanya bersifat ritual saja sehingga harus ada perubahan dari segala aspek menurut syariah Islam.
Dari pihak Jaringan Islam Liberal, menurutnya Khilafah hanyalah sebuah sistem yang hanya ada dalam angan-angan / impian / utopis saja. Menurutnya, dalam Islam sendiri tidak ada ajaran yang secara spesifik mengatur tentang pemerintahan. Itu sudah diatur dan diserahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia juga mengatakan bahwa Arab Saudi tidak menerapkan sistem Khilafah dan (tentunya...) sedikit skeptis dengan perjuangan Hizbut Tahrir yang dari negara Arab saja tidak diterima, bagaimana bisa masuk dan menjadi kekuatan besar di kancah politik dunia?
Disini saya mendapatkan kesimpulan (kalau salah mohon dikoreksi), bahwa dari pihak Hizbut Tahrir begitu ngotot dalam menerapkan Khilafah. Pokoknya Khilafah titik! Itulah yang menurut saya, membuat organisasi ini maju ditempat sejak lama. Ia tidak mampu memahami bahwa, sulit sekali menerapkan sistem yang dimana dikatakan, satu dunia dibawah satu pemerintahan. saya tidak mengatakan bahwa sistem tersebut utopis atau apa (karena saya hargai perjuangan mereka...) Namun untuk mencapai itu, Hizbut Tahrir akan sangat kesulitan. Tentu kalau ada yang sudah tahu bahwa Hizbut Tahrir sudah lama bersinggungan dengan Ikhwanul Muslimin di mesir atau kalau di Indonesia, HT Indonesia bersinggungan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tidak akan terjadi persatuan Islam kalau kekuatan-kekuatan itu masih saja bersinggungan.
Disisi lain, dari Jaringan Islam Liberal sendiri saya melihat bahwa bantahannya terhadap sistem Khilafah masih sangat terkesan emosional. salah seorang pembicara dari JIL tampaknya hanya menyela-nyela pembicaraan moderator yang memang terkesan membela. Meutia Hafid sendiri tampaknya juga ikut dalam golongan JIL (mungkin trauma karena pernah diculik separatis di Irak???) dan terus mengintrupsi pembicaraan pihak Hizbut Tahrir. JIL sendiri melihat bahwa Syariah Islam yang dicobakan masuk dalam Khilafah sangat sulit diterapkan karena Syariah Islam harus ditangkap lewat esensi bukan dari tekstual padahal kalau saya lihat dalam al-Quran, jelas-jelas bahwa banyak seruan dalam al-Quran mengatur tatanan masyarakat yang masih relevan di masa sekarang jika diterapkan secara rasional (jujur, saya sendiri bingung maksud dari "esensi" sebab syariah tersebut adalah hal yang konkret bukan abstrak. Saya melihat dari pembicara JIL sendiri sangat sangat sangat pesimistis dengan sistem Khilafah (melihat dari raut wajahnya yang berkesan "ngece" bahasa jawanya). Dari JIL jujur, saya mungkin sulit menemukan kekurangan sebab pressure dari pihak JIL pada HTI sangat kuat (istilahnya, saya njagoin HTI tapi musuhnya banyak)...
Akhir acara, tampak bahwa perbincangan itu tidak memberikan hasil apa-apa. Hizbut Tahrir ngotot dengan Khilafah-nya, sedangkan JIL ngotot dengan modernisasinya.
Sebelum Ibu saya merebut Remote Tv dan mematikannya lalu bilang "debat apa ini, koq tak berkesudahan..." Dan tidur...
Di situ saya melihat pihak dari Hizbut Tahrir Indonesia, lalu ada yang ditantang dari Jaringan Islam Liberal, satu orang moderator dari Universitas Paramadina dan pembawa acara Meutia Hafid sendiri. Pada awal-awal saya cukup tertarik pada bahasan yang memang cukup jarang ditampilkan : Pihak yang mencoba menegakkan syariah dan pihak yang istilahnya, coba untuk memodernkan unsur syariah dan melebur dalam kebhinekaan
Namun, saya melihat sendiri (secara pribadi mungkin...) Acara tersebut seperti dikemas kurang tepat saya rasa. Dilihat dari komposisi 3 : 1, tidak... 6 : 1 atau lebih malah. pihak dari Hizbut Tahrir sendiri rasanya sangat kewalahan menghadapi cecaran dari pihak Jaringan Islam Liberal yang pendapat dan sanggahannya disokong oleh Moderatornya sendiri (ingat, sekali lagi mungkin Metro Tv mendatangkan pihak yang kurang netral. Universitas Paramadina adalah surga bagi liberalis sekuleris). Dan dari pihak penonton yang sebagian (atau seluruhnya...?) dari mahasiswa paramadina sendiri. Makin lengkaplah hegemoni JIL dalam acara tersebut.
Oke, kembali ke judul posting awal. Saya melihat bahwa dari pihak Hizbut Tahrir sendiri sangat ngotot mempertahankan satu konsepsi yang mereka sebut sebagai "Khilafah". Konsepsi yang telah ada sejak zaman nabi sampai keruntuhan Khilafah Utsmaniyah. Asal tahu saja, bagi yang tidak tahu khilafah, itu adalah satu sistem dimana satu regional kawasan (atau mungkin dunia, bisa jadi) dipimpin oleh satu pemerintahan berdasarkan syariah Islam. Mereka berpendapat bahwa hegemoni orang orang kafir dalam segala aspek telah meruntuhkan substansi Islam sehingga Islam dikerdilkan menjadi sebuah ajaran yang hanya bersifat ritual saja sehingga harus ada perubahan dari segala aspek menurut syariah Islam.
Dari pihak Jaringan Islam Liberal, menurutnya Khilafah hanyalah sebuah sistem yang hanya ada dalam angan-angan / impian / utopis saja. Menurutnya, dalam Islam sendiri tidak ada ajaran yang secara spesifik mengatur tentang pemerintahan. Itu sudah diatur dan diserahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia juga mengatakan bahwa Arab Saudi tidak menerapkan sistem Khilafah dan (tentunya...) sedikit skeptis dengan perjuangan Hizbut Tahrir yang dari negara Arab saja tidak diterima, bagaimana bisa masuk dan menjadi kekuatan besar di kancah politik dunia?
Disini saya mendapatkan kesimpulan (kalau salah mohon dikoreksi), bahwa dari pihak Hizbut Tahrir begitu ngotot dalam menerapkan Khilafah. Pokoknya Khilafah titik! Itulah yang menurut saya, membuat organisasi ini maju ditempat sejak lama. Ia tidak mampu memahami bahwa, sulit sekali menerapkan sistem yang dimana dikatakan, satu dunia dibawah satu pemerintahan. saya tidak mengatakan bahwa sistem tersebut utopis atau apa (karena saya hargai perjuangan mereka...) Namun untuk mencapai itu, Hizbut Tahrir akan sangat kesulitan. Tentu kalau ada yang sudah tahu bahwa Hizbut Tahrir sudah lama bersinggungan dengan Ikhwanul Muslimin di mesir atau kalau di Indonesia, HT Indonesia bersinggungan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tidak akan terjadi persatuan Islam kalau kekuatan-kekuatan itu masih saja bersinggungan.
Disisi lain, dari Jaringan Islam Liberal sendiri saya melihat bahwa bantahannya terhadap sistem Khilafah masih sangat terkesan emosional. salah seorang pembicara dari JIL tampaknya hanya menyela-nyela pembicaraan moderator yang memang terkesan membela. Meutia Hafid sendiri tampaknya juga ikut dalam golongan JIL (mungkin trauma karena pernah diculik separatis di Irak???) dan terus mengintrupsi pembicaraan pihak Hizbut Tahrir. JIL sendiri melihat bahwa Syariah Islam yang dicobakan masuk dalam Khilafah sangat sulit diterapkan karena Syariah Islam harus ditangkap lewat esensi bukan dari tekstual padahal kalau saya lihat dalam al-Quran, jelas-jelas bahwa banyak seruan dalam al-Quran mengatur tatanan masyarakat yang masih relevan di masa sekarang jika diterapkan secara rasional (jujur, saya sendiri bingung maksud dari "esensi" sebab syariah tersebut adalah hal yang konkret bukan abstrak. Saya melihat dari pembicara JIL sendiri sangat sangat sangat pesimistis dengan sistem Khilafah (melihat dari raut wajahnya yang berkesan "ngece" bahasa jawanya). Dari JIL jujur, saya mungkin sulit menemukan kekurangan sebab pressure dari pihak JIL pada HTI sangat kuat (istilahnya, saya njagoin HTI tapi musuhnya banyak)...
Akhir acara, tampak bahwa perbincangan itu tidak memberikan hasil apa-apa. Hizbut Tahrir ngotot dengan Khilafah-nya, sedangkan JIL ngotot dengan modernisasinya.
Sebelum Ibu saya merebut Remote Tv dan mematikannya lalu bilang "debat apa ini, koq tak berkesudahan..." Dan tidur...
Sabtu, 27 September 2008
Sebuah Kreatifitas itu adalah Spesialisasi...
Banyak orang yang tidak mengerti. Banyak juga yang mengerti kenapa kreatifits itu berharga sangat mahal. Bisa dikatakan bahwa dalam diri manusia masing2 punya sisi kreativitas sendiri yang tentunya berbeda dengan orang lain.
Semisal, kita bisa melihat bahwa orang lain bisa menjadi pemahat, tapi tidak mampu mengapresiasikan bakatnya pada satu buah kanvas. Demikian jika seseorang hanya mampu mengaplikasikan kreativitasnya pada seperangkat program bernama Adobe Photoshop, Corel dll namun dalam bidang gambar visual ia masih kurang mapan.
Karena itu, dikampus sering saya lihat (atau saya alami sendiri) kurangnya bagusnya nilai mahasiswa (berhubung saya juga berkuliah di Desain grafis salah satu D2 Swasta di surabaya) disebabkan karena ketidaksukaan pada satu cabang seni (semisal, salah satu teman saya sangat suka fotografi, tapi ia tidak mampu membuat suatu karya patung dari clay). Jadi, ia hampir saja tidak lulus kuliah... kasihan
Semisal, kita bisa melihat bahwa orang lain bisa menjadi pemahat, tapi tidak mampu mengapresiasikan bakatnya pada satu buah kanvas. Demikian jika seseorang hanya mampu mengaplikasikan kreativitasnya pada seperangkat program bernama Adobe Photoshop, Corel dll namun dalam bidang gambar visual ia masih kurang mapan.
Karena itu, dikampus sering saya lihat (atau saya alami sendiri) kurangnya bagusnya nilai mahasiswa (berhubung saya juga berkuliah di Desain grafis salah satu D2 Swasta di surabaya) disebabkan karena ketidaksukaan pada satu cabang seni (semisal, salah satu teman saya sangat suka fotografi, tapi ia tidak mampu membuat suatu karya patung dari clay). Jadi, ia hampir saja tidak lulus kuliah... kasihan
Minggu, 21 September 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
